“Mi, kenapa ya, kok muslim itu
berbeda-beda kualitasnya, padahal sama-sama baca kalimat syahadat?” tanya
Richie, nampak wajahnya serius banget.
Umi jadi nggak enak mau mencandainya
seperti biasa.
“Kenapa, kira-kira,” jawab Umi, mengukur pemahaman Richie terhadap kalimat syahadat.
“Berbeda kesungguhannya dalam
mengucapkan, mungkin? Kan ucapan kalimat syahadat ibarat janji atau sumpah?”
“Kemungkinan lain?” kejar Umi.
“Emm, beda pemahaman, mungkin? Kan
kalimat syahadat terkandung inti ajaran Islam, sehingga yang pemahamannya bagus
dapat mengamalkannya dengan baik.”
“Masih ada kemungkinan lain?” Umi
masih sabar menunggu, mungkin masih ada
analisa Richie tentang hal ini.
“Nyerah deh, baru segitu Richie
memahaminya.”
“Kalau menurut Richie, seharusnya
seseorang menandatangi sebuah surat perjanjian super penting yang menyangkut
keselamatan hidupnya, perlu memahami isinya nggak? Apa nurut aja, tanpa membaca
dulu?”
“Ya harus memahami dulu, lah. Bisa
celaka nanti, kalau ada unsur penipuan yang tidak diketahui karena tidak
membaca sebelumnya,” jawab Richie, tegas.
“Kalau dalam sebuah perjanjian
penting, perlu nggak adanya unsur ikhlas menerima isinya?”
“Perlu, Mi. Biar menjalaninya nanti
dengan rela hati, sehingga urusan pelaksanaannya lancar dan sukses.”
“Perlu keyakinan bahwa isi
perjanjian itu baik untuk keselamatan dirinya, nggak?”
“Apalagi itu, ya harus lah. Kalau
nggak yakin dari awal, nanti ditengah perjalanan bisa membatalkan perjanjian
itu dan mendapatkan sangsinya.”
“Syahadat adalah sebuah perjanjian
yang berisi, bahwa manusia yang mengucapkannya mengakui bahwa Allah adalah
satu-satunya sesembahan, Muhammad adalah utusan-Nya yang bertugas menuntun
manusia bagaimana melaksanakan isi syahadat itu. Ilmu, ikhlas dan keyakinan
tentang Islam sebagai kandungan syahadat itulah yang akan membedakan kualitas
antar muslim. Seseorang yang paham apa kandungan kalimat syahadat dan ikhlas
menerimanya serta yakin akan kebenarannya, maka akan menjadi manusia dengan
kualitas seperti para sahabat Rasulullah. Mereka tak segan mengorbankan nyawa
untuk mempertahankan keimanan itu, seperti contohnya Bilal yang disiksa karena
tidak mau mengakui ilah selain Allah. Seperti Abu Bakar yang rela menginfakkan
seluruh hartanya demi dakwah, Sumayyah yang rela tercabik-cabik tubuhnya dalam
mempertahankan keimanannya. Atau para muslimah yang segera menyobek tirai-tirai
di rumahnya karena turun perintah berhijab. Madinah tergenang khamr saat hukum
haramnya ditentukan, dll. Bandingkan dengan diri kita saat ini!”
“Richie mau rutin shalat di masjid
aja beratnya masyaallah,” jawabnya, sedih.
“Itu dia. Kita harus terus
meningkatkan pemahaman kita. Jangan sampai keimanan tergadai karena cinta pada
manusia, takut tidak kebagian rizki, khawatir hidupnya susah, dll.”
“Iya sih, Mi. Saat akan melakukan
ketaatan, sepertinya banyaaaak, banget pertimbangannya.”
“Begitulah manusia kalau tidak
berpegang teguh pada tali Allah, selalu akan terombang-ambing dalam
pilihan-pilihan yang meragukan. Makanya, rajin-rajinlah ikut kajian, supaya
pemahaman tentang kandungan syahadat, yaitu Islam, benar dan terus meningkat
kualitasnya.”
No comments:
Post a Comment