Sunday, August 30, 2015

Untukmu Yang Ada Di Sana

Motivasiku melanjutkan pertemanan ini semata ingin mendapatkan keutamaan menolong sesama yang sedang sedih dan dalam kesulitan, dengan harapan Allah akan menolongku di hari yang tiada penolong selain-Nya.

Sepanjang perjalanan kehidupan, kita akan menemui masa-masa kritis yang harus bisa kita lalui dengan sangat hati-hati. Jika selamat, maka derajat kita akan meningkat, jika lengah, di situlah lubang kubur kita. Terpuruk dalam lumpur penyesalan.

Dalam kondisi kritis, Allah selalu ulurkan pertolongan, yang jika kau memahaminya akan kau sambut dan jadi tongkat untuk melalui masa kritis itu, tapi jika tak mampu melihatnya, maka tongkat itu akan luruh bersama kejatuhanmu. Jernihkan hati untuk bisa melihat dan menggunakan tongkat itu untuk bangkit. Jangan kau buang atau sikapmu membuatnya menjauh dan meninggalkanmu.

Dari awal aku sudah tahu apa tujuanmu mengenalku.

Kalau aku wanita pada umumnya, tentu aku akan langsung memblokirmu, masa bodoh, nggak, ada urusan.

Tapi aku tipe yang agak-agak iseng, mungkin. Aku senang dengan sesuatu yang berbeda walau tak juga layak dikatakan nyleneh.

Aku selalu penasaran dengan setiap masalah yang Allah hampirkan padaku, karena sepemahamanku, tak ada kejadian di muka bumi ini terjadi dengan sendirinya. Semua digerakkan dan atas izin-Nya dan di baliknya selalu ada hikmah yang bisa kita ambil.

Aku sadar, kekagumanmu padaku memiliki dua kemungkinan.

Sebuah kekaguman yang tulus, atau sekedar basa basi untuk menyenangkan hati dan membuatku meresponmu.

Sebuah kekaguman yang aku tahu pasti akan menjerumuskan sebagian wanita.

Mungkin kau pikir aku gila, sudah tahu menjerumuskan tapi tidak dihindari? Dan aku menyadari kegilaan itu.

Ketika memutuskan sebuah langkah yang akan kutempuh, aku sudah pastikan apa yang akan kugapai.

Aku tahu, ini bukan langkah mudah. Bukan sekedar memutuskan mau masak apa untuk makan hari ini, tapi ini sebuah langkah yang aku tahu pasti melibatkan emosi yang mungkin tidak sedikit menguras energi. Dan selalu, aku libatkan Allah di dalamnya. Aku telanjang hati di hadapan-Nya.

Aku tahu ada serpihan-serpihan rasa yang menggelitik, tapi justru ini kujadikan kesempatan untuk menjadikannya sebagai sarana training. Latihan olah rasa dengan pengawasan Allah. Jadi kau bisa bayangkan, mungkin nggak  kalau aku mau macam-macam?

Aku hanya berharap kekuatan dari-Nya untuk bisa menolong menyelamatkan keluargamu dari kehancuran. Aku tak ingin setan bergembira dengan kondisi keluargamu saat ini. Aku ingin kau bisa menikmati surga dunia yang Allah berikan pada keluargamu, karena aku sudah merasakannya. Indah, dan aku ingin keindahan itu kekal sampai ke surga-Nya.

# Gempur aku dengan risalah, hikmah dan falsafah terbaik yang pernah kau miliki.

Ingat pesan ini yang pernah kau tulis?
Aku tersanjung, tapi tidak terlena. Pesan itu aku anggap sebagai sebuah legitimasi untuk aku bebas memberimu nasihat, kau sendiri yang memposisikanku seperti itu.

# Aku ikut aturan main yang kau tetapkan, sungguh, melalui pesan-pesan ini aku ingin mengikuti jalanmu.

Ingat juga pesan yang ini, kan? Dan ini juga alasan yang membuatku tetap ada di gelombang ini.

# Aku belajar dari kebodohan, keterpurukan, kehinaan, pengkhianatan, kesengsaraan, untuk bisa belajar dan mengungkap tabir kehidupan.

Ini pesanmu juga, kan? Maaf kalau ada yang kurang kata atau redaksinya kurang pas, tapi itu yang aku tangkap di awal-awal, sebelum kau bercerita bagaimana kondisimu di sana.

Tapi pesan inipun aku jadikan dalil dan menganggapmu sudah punya mental tahan banting dan tahan bully, ha ha ha, jangan salah sangka. Aku tidak suka merendahkan seseorang, tapi kau sudah rasakan ketegasanku, bukan, yang kau sebut kereng, galak dan kejam?

Dengan kejujuranmu bercerita kepadaku tentang kisruhnya rumah tanggamu, aku semakin mendapat wawasan, betapa rumitnya sebuah permasalahan yang melibatkan rasa di dalamnya, dan dalam kehidupan manusia, tak mungkin rasa tak terlibat, karena itu perangkat kehidupan yang menyertainya.

Di sisi lain aku semakin bersyukur dengan karunia A─║lah yang diberikan pada keluargaku, maaf, bukan tidak empati, merasa senang karena orang lain menderita, tapi justru aku ingin menularkan kebahagiaan itu dengan berbagi saran.

Aku tidak menuduhmu bejat dan sebagainya, yang biasa diucapkan oleh orang yang merasa terganggu.

Aku coba memahami kondisimu, yang sedang dalam upaya memenuhi kebutuhan mendasar sebagai manusia.

Benar! Mungkin kamu tak seberuntung aku, tapi bukan berarti aku setuju dengan upaya yang sedang kau lakukan.

Dalam setiap masalah pelik yang muncul, pasti ada akarnya. Jika ingin penyelesaiannya tuntas, maka kita harus cabut seakar-akarnya, tak hanya memangkas ranting-ranting kecil yang dirasa mengganggu, karena layaknya sebuah pohon, ranting yang dipangkas itu justru akan memunculkan tunas baru yang lebih subur dan lebih kuat daya tahannya.

Untuk mencari, di mana akarnya, tentu kau harus menggali timbunan yang menutupinya. Bongkar lagi kenangan-kenangan yang telah terpendam, telusuri lagi jejak-jejak yang pernah kau toreh dalam perjalanan kehidupanmu. Minimal, layangkan ingatanmu saat memutuskan memilihnya menjadi separuh jiwamu.

Stop!

Jangan bilang keputusan itu kau ambil karena terpaksa, tersudut kondisi atau apalah-apalah. Apapun, itu adalah keputusan penting dalam hidupmu. Tak perlu disesali, karena itu tak akan mengubah ukiran kehidupan yang telah kau goreskan.

Andai di sana ada luka, tahan sedikit batinmu untuk mencecap kembali pedih yang pernah kau rasa

Percayalah, itu sebuah terapi yang akan membantumu menyembuhkan luka itu. Jangan biarkan dia mengering hanya di bagian luarnya, tampak sehat, tapi di dalam membusuk. Itu akan menjadi bom waktu yang terpicu sedikit saja benturan, dia akan meledak hebat, melalap habis orang-orang yang kau cintai yang ada di sekitarmu.

Dalam setiap diri, pasti ada lebih dan kurangnya, ada yang kita sukai ada yang tidak bahkan yang kita benci. Demikian pun dengan belahan jiwa yang telah kau pilih. Pasti ada yang kau suka darinya sehingga kau memilihnya, sama halnya ada yang dia suka darimu sehingga dia menerimamu.

Benar! Perjalanan hidup bisa mengubah banyak hal. Bisa jadi apa yang kau suka selama ini hanya kepura-puraannya untuk menarik hatimu, setelah berjalan sekian lama, kau ketahui bagaimana aslinya. Tapi, bisa jadi dia menemui hal yang sama darimu, sebuah kepalsuan yang disadarinya setelah sekian lama tanpa ada tabir di antara kalian.

Segera pilih bentuk komunikasi yang paling memungkinkan di antara kalian.

Oh, ya, satu hal yang tak boleh lupa.

Memang ada masalah yang dengan dibiarkan dia akan selesai sendiri seiring berjalannya waktu, tapi yang jelas bukan masalah yang ini.

Kau mampu menjalin komunikasi denganku yang baru kenal beberapa hari, dan aku yakin kau lebih mampu melakukannya terhadap belahan jiwamu.

Jangan tunda terlalu lama. Semoga bunga-bunga cinta itu masih ada, walau tinggal beberapa kelopak, segera segarkan dengan siraman perhatian yang masih kau punya.
Jangan bilang sudah tak ada.

Terbukti kau masih memiliknya, yang sempat kau berikan padaku. Jika memang sudah tak ada, ambillah yang pernah kau titipkan padaku. Dia masih utuh sempurna.

No comments:

Post a Comment