Wednesday, July 15, 2015

Selamat Berpisah Ramadhan

Ujung Ramadhan semakin meruncing.

Malam-malam syahdu telah berakhir.

Seperti apa kualitas diri kita yang sebenarnya mulai akan terlihat.

Apakah bangun malamnya kita karena rindu munajat atau karena makan sahur?

Mulai besok akan terlihat.

Apakah tilawah kita karena kenikmatan berinteraksi dengan Al Qur'an atau semata mengejar targetan perlipatan pahala?

Mulai besok akan terbukti.

Apakah kesabaran dan kedermawanan kita hanya akan menjadi sejarah setiap Ramadhan ataukah sudah menjadi akhlak diri?

Mulai besok akan terjadi.

Kalau Ramadhan kita sebut sebagai bulan latihan, maka besok kita akan melihat hasilnya.

Tak inginkah kita mengabadikan salah satunya sebagai hiasan hari-hari ke depan sampai berjumpa lagi dengan Ramadhan, insyaallah?

Antara Taqlid dan Meneladani

Pada masa-masa awal kehidupannya, sangat wajar apabila manusia meniru apa yang dilihat dan didengar, karena pertumbuhan daya nalarnya belum sempurna.

Kemampuan memilih dengan benar akan muncul seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pandangan yang benar terhadap kehidupan serta misi dalam hidupnya.

Taklid dikatakan sebagai meniru perbuatan pihak lain, yang biasanya memiliki posisi lebih kuat, didorong oleh keinginan untuk menampakkan bahwa dirinya sudah besar/kuat seperti yang ditiru.
Seperti seorang anak kecil meniru tingkah kakaknya yang lebih besar. Atau sebuah generasi yang meniru budaya nenek moyang secara membabi buta. Bisa juga terjadi pada sebuah bangsa yang tertindas meniru bangsa yang menjajahnya.

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya". Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?(Teejemah QS. Al-'Araf :28)

Lalu, apa beda taklid dengan meneladani?

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(Terjemah QS. Al -Ahzab : 21)

Pembedanya adalah :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Terjemah QS. Al-Isro' : 36)

Jelas?

Ya, pendengaran, penglihatan, hati/akal.

Dan akibatnya?

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Terjemah QS. Al'Araf: 179)

Sumber : Fiqh Dakwah (by. Syaikh Musthafa Masyhur)

Tuesday, July 14, 2015

Penulis, Kemunafikan dan Aura

Mungkin kita pernah menemukan seorang penulis yang dalam karyanya selalu membicarakan hal-hal kebaikan.

Muncul tanya, apakah dalam kehidupannya penulis itu selalu baik-baik seperti setiap tulisannya?

Logikanya, tak ada manusia sempurna, pun kehidupannya.

Lalu, apakah dengan begitu bisa dikatakan bahwa penulis itu munafik? Dengan asumsi, munafik adalah isi beda dengan kulit, yang terlihat bukan yang sebenarnya?

Jujur, saya kurang sepakat.

Istilah munafik tidaklah begitu sederhana, ini terkait dengan istilah yang Allah gunakan dalam firman-firmannya, salah satunya dikatakan bahwa tempat orang-orang munafik adalah di dasar neraka, tempat paling mengerikan bagi orang-orang durhaka.

Satu lagi pertanyaan, apakah penulis berkewajiban menuliskan semua hal apa adanya?
Mungkin ya untuk penulis yang berprofesi sebagai wartawan berita, tapi tidak harus selalu begitu untuk para penulis lain.

Hebatnya penulis, seakan dia punya wewenang membuat dunia dalam tulisan-tulisannya.

Bagaimana dengan judul di atas?

Ya, dalam setiap karyanya, penulis menentukan pesan yang akan disampaikan dan berharap pesan itu sampai pada pembaca.

Ketika seorang penulis ingin memancarkan aura positif dalam setiap karyanya, maka dia akan memilih sudut pandang yang tepat dari tema yang dipilihnya.

Jadi, bukan masalah penulis jujur atau tidak, tapi bagaimana kekuatan kepenulisannya digunakan untuk memancarkan aura positif bagi para pembacanya.

Sekelam dan seburuk apapun sebuah peristiwa atau sisi dari kehidupannya, seorang penulis tetap akan memilih aura positip dalam menyampaikannya.

Yang Dibutuhkan Orang Tua

Nggak, nak. Umi nggak sakit berat, hanya flu dan demam biasa, hanya saja karena bersamaan dengan migren bulanan, jadi terlihat parah, sampe nggak bisa bangun. Alhamdulillah, cukup istirahat tiga hari, sekarang sudah agak baikan.

Tapi Umi sangat haru dan bahagia, bagaimana dengan sakit yang hanya seperti ini, kalian benar2 menunjukkan kasih sayang. Semua memberi perhatian, yang besar maupun kecil, yang jauh maupun dekat.

Yang jauh segera menelpon, yang dekat menawari dan mengambilkan makanan dan minuman, membekam, yang kecil bolak-balik peluk cium Umi.

Dari kalian Umi belajar, apa sesungguhnya yang diharapkan orang tua dari anak-anaknya, ya, tidak banyak nak, tidak banyak. Tidak perlu sibuk mengumpulkan harta dunia untuk membahagiakan orang tua, cukup kasih sayang dan perhatian tulus itu yang dibutuhkan.

Oh,ya, jangan lupa juga, selalu selipkan doa untuk Umi & Abi saat kalian menghadap kepada-Nya, baik kami masih bersama kalian ataupun kita sudah terpisah alam.

Thursday, July 9, 2015

Menjadikan Malam Lailatul Qadr Sebagai Malam Seribu Bulan

Menjadikan malam lailatul qadr sebagai malam seribu bulan.

Lho? Kok menjadikan? Seolah kita yang menentukan?

Eit! Sabar, jangan emosi dulu 😆, maksudnya, bagaimana kalau kita memilih salah satu malam yang masih tersisa di Ramadhan kali ini, kemudian kita anggap malam itu sebagai lailatul qadr?

Alhamdulillah kalau memang malam yang kita pilih itu sesuai dengan pilihan Allah juga, kan hanya Dia yang tahu?

Di malam yang kita pilih itu benar2 kita buat sangat berarti bagi kehidupan kita ke depan, terutama untuk keselamatan kehidupan kekal kita di akhirat.

Caranya :
1. Mohon ampunan dg kesungguhan hati sbg upaya pembersihan diri. Jika sdh mendapat ampunan-Nya, andài esok harinya ajal menjemput pun, sdh tak ada masalah. Karena ujung perjalanan hidup kita adalah ampunan n rahmat-Nya.

2. Jadikan malam itu sbg titik tolak untuk sebuah perubahan yang fundamental. Niatkan dg kesungguhan hati untuk menghentikan segala laku yang Allah tak suka dan berungguh-sungguh untuk meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Ujian pasti ada, tapi dengan kesungguhan ingin menggapai ridho-Nya, sebesar apapun ujian n halangan akan dihadapi dengan gagah dan menang, karena Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita.

3. Agar peluang kesamaan malam pilihan kita dan pilihan Allah semakin besar, maka jadikan semua sisa Ramadhan tahun ini sebagai lailatul qadr. Masih cukup kan energi untuk menghidupkannya?

#Semangat 💪💪💪

Wednesday, July 8, 2015

Doa di lailatul qadr

Allaahumma innaka 'affuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni (Ya Allah Engkau Maha Pemaaf/Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunillah aku)

Menyambut malam yang penuh keberkahan, yang waktu tepatnya dirahasiakan, Rasulullah mengajarkan doa yang dianjurkan kita memperbanyaknya.

Mungkin kita pernah mempertanyakan, kenapa Rasulullah Saw. mengajarkan doa khusus ini?

Bisakah disimpulkan bahwa itulah kebutuhan terpenting kita sebagai seorang hamba saat diberikan waktu terbaik untuk mengajukan permintaan?

Bisa jadi, ya.

Kenapa?

Mengapa tidak minta surga?
Karena surga diberikan pada hamba yang dirahmati-Nya.

Mengapa tidak minta rizki?
Karena Allah sudah menjamin rizki setiap hamba-Nya.

Mengapa ampunan Allah yang diutamakan kita memintanya?
Karena begitu banyaknya khilaf dan dosa kita sebagai hamba-Nya dan saat ampunan itu Allah berikan, maka rahmat Allah akan kita dapatkan. Saat seorang hamba mendapatkan rahmat-Nya, adakah lagi kebutuhan yang melebihi itu?
Saat Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memerintahkan para malaikat dan seluruh alam untuk mencintainya.

Allahumma innaka 'affuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni

Tuesday, July 7, 2015

Kebimbangan Wanita Haid

Kebimbangan Wanita Haid

Mungkin sebagian mengalami kebimbangan yang sama setiap bulan Ramadhan, terutama wanita produktif.

Sudah banyak diketahui bahwa ada dua pendapat terkait dengan tilawah Al Qur'an saat haid.
1. Boleh, dengan dasar pertimbangan dan dalil yang jelas.
2. Tidak boleh, juga dengan dalil yang jelas, dan ini merupakan pendapat sebagian besar ulama.

Mana yang kita pilih?

Masing-masing boleh mengambil salah satu pilihan dengan dasar kepahaman, bukan sekedar ikut2an.

Sebenarnya, apa yang menjadi hal dasar perbedaan dua pendapat itu?

Setahu saya, sejauh kajian yang pernah diikuti, bermuara pada kesimpulan:
1. Ulama pada pendapat 1 lebih mengutamakan masalah kejelasan dalil dalam setiap ibadah.
2. Ulama pada pendapat kedua mengutamakan kehati-hatian dalam  penghormatan terhadap Al Qur'an. Bukan berarti ulama pada pendapat 1 tidak menghormati tapi bentuk penghormatannya yang  berbeda.

Pilih mana?

Silahkan pilih salah satu pendapat dan lakukan dengan sebaik-baiknya.

Apakah itu berarti syari'ah bersikap subyektif? Terserah individu dalam menjalankannya?

Untuk satu - dua hal terkesan seperti itu, tapi sebenarnya tidak, karena pilihan itu harus berdasarkn ilmu dan hal itu hanya untuk beberapa kasus dari ribuan syariah yang ada dalam Islam.

Apakah kita boleh  berganti-ganti pendapat? Saat Ramadhan ikut pendapat pertama, saat di luar Ramadhan ikut pendapat kedua?

Ha hai, plin-plan dong? 😆 Apa alasannya?

Biasanya terkait dengan semangat ibadah di bulan Ramadhan, terutama target pencapaian tilawah.

Sssst! Hati-hati, jangan-jangan ini pengaruh nafsu, walaupun nafsu yang sepertinya baik.

Mungkin kita harus berpikir ulang dalam menentukan pilihan, karena semua keputusan kita akan dimintai pertanggung jawabannya.

Kalau sudah menentukan pilihan berdasarkan pemahaman dan ketaatan, maka istiqomahlah dalam melaksanakan.

#sekedarpendapat ☺