Perjalanan hari ini (26 Juli 2022) seperti "mengulang" beberapa tahun lalu, sebelum negara tercinta ini diwarnai pandemi covid, sehingga banyak agenda perjalanan yang dibatalkan. Sebagai gantinya, hampir semua kegiatan di-online-kan.
Memang tidak semua jadwal visitasi suami, sebagai asesor PAUD saya ikut. Tergantung kepentingan dan kelonggaran waktu dan agenda.
Pernah harus menemani karena pasangan asesornya perempuan dan pergi bersama ke lokasi , jadi kepentingannya menemani, menjaga dari fitnah.
Untuk kali ini, pasangannya perempuan juga, Mba Sri, masih muda, pantaslah jadi anak. Namun beliau diantar suaminya sampai lokasi, karena ada keluarganya yang tinggal di dekatnya, sekaligus mengupayakan tempat bermalam.
Jadi, kali ini ikut karena nggak enak ditinggal sendiri di rumah, anak-anak sedang tidak ada. Pekerjaan juga bisa dibawa, lha wong hanya membaca, menulis, chattingan dan menelpon. Karuan ikut, menambah daftar tempat yang pernah di kunjungi. Mencari wawasan baru, menambah kenalan, teman dan saudara.
Sebenarnya badan cape, karena hari Senin hampir seharian mengantarkan santri mengikuti acara penyerahan hadiah di kabupaten. Namun, setelah ditimbang-timbang, diukur-ukur, saya putuskan untuk ikut.
Drama Senin malam. Setelah berkemas pakaian untuk 3 hari, saya minum suplemen, untuk antisipasi dan menjaga badan. Nah, entah karena pengaruh suplemen, atau psikologis grogi mau pergi jauh, malam malah sulit tidur. Menjelang jam 1 sepertinya baru terlelap, karena setengah satu masih melihat jam di hp.
Berikutnya, hampir setengah dua, terjaga, tapi saya usahakan tidur lagi, sampai bangun jam 4.
Segera bersiap sambil menunggu waktu subuh dan tepat jam 5 pagi kami berangkat.
Lokasi pertama yang akan dikunjungi, di google maps sekitar 104 km dengan waktu tempuh 2 jam 5 menit lewat tol kemudian ke jalan raya Padang Ratu.
Alternatif kedua masuk lewat jalan di depan bandara dengan waktu 2 jam 55 menit.
Alternatif ketiga lewat Pesawaran arah Pringsewu, dengan waktu tempuh 2 jam 40 menit.
Dari ketiga alternatif jalan itu, paling meyakinkan yang pertama, karena pernah ke daerah sekitaran lokasi sekitar tahun 2007. Karena pagi hari, kami pilih jalan lintas sumatra sampai Gunung Sugih dilanjutkan ke jl. Raya Padang Ratu.
Alhamdulillah, jalan lintas sumatra relatif sepi sehingga jam 6 tepat kami sampai di pertigaan Gunung Sugih.
Berbeda halnya dengan jalan menuju lokasi, informasi yang di dapat, kita butuh waktu lebih banyak karena sebagian jalannya lumayan butuh perbaikan.
Pagi yang sejuk, ac dimatikan, jendela mobil sedikit dibuka. Segar.
Sepanjang perjalanan, selain rumah penduduk yang tidak terlalu rapat, pemandangan sungguh menyejukkan mata. Sawah, kebun singkong, jagung, kebun kelapa sawit, karet, dll. Belum lagi ternak yang bebas berkeliaran di alam bebas. Bahkan beberapa kali kami harus bersabar menunggu rombongan sapi yang memenuhi sisi jalan.
Selama perjalanan, kami komunikasi dengan pasangan asesor yang sudah duluan, sambil memperhatikan maps. Ketawa-ketawa melihat ketidaksesuaian jarak tempuh dengan waktu tempuh. Jarak yang begitu dekat harus ditempuh dengan waktu yang lama, mirip di perkotaan karena terhambat macet.
Saya sangat menikmati perjalanannya, walaupun lama sampai tempat.
Hari Selasa, jadwal visitasi di TK Dharma Wanita desa Payung Mulya, kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Kami sampai lokasi
Sesuai jadwal, visitasi dilakukan dari jam 8 sampai jam 4 sore. Saya tidak terlalu terlibat, karena merasakan badan sepertinya sudah memberi alarm. Karena di sekolah tidak ada tempat untuk merebahkan badan, saya diantar ke rumah kepala sekolah yang berjarak 4 rumah dari sekolah. Ditinggal sendiri, saya berusaha untuk tidur, walau sebentar, selain membaca dan menyelesaikan beberapa catatan. Sayangnya, di sini tidak ada sinyal, katanya kalau hujan apalagi mati lampu, setelahnya sinyal menghilang. Memang lokasinya di dataran tinggi, kalau tidak bisa disebut pegunungan.
Sekitar jam 11, saya dijemput asesor dan guru-guru TK, menuju balai desa yang dipinjamkan kepala desa untuk melanjutkan proses visitasi, karena di sana sinyalnya bagus. Tanpa sinyal, proses visitasi sangat terganggu, berkaitan dengan upload data yang dibutuhkan.
Tim asesor dan para guru melanjutkan proses, sedang saya melipir ke belakang balai desa. Di sana ada saung bambu di kebun toga, tanaman obat keluarga, yang lumayan untuk selonjoran dan menikmati pemandangan pegunungan dan kebun sawit. Saya bermaksud mengikuti jalan di samping balai desa yang menuju ke kebun sawit, sayang gerimis halus mulai turun.
Saya berlari kecil menuju balai desa, mengingat badan yang sangat peka dengan angin, ac dan hujan.
Jam 12 kami berkemas, kembali ke rumah ibu kepala TK. Di sana sudah terhidang makan siang: nasi, sambal ikan patin, sambal korek, dan sayur pakis. Mmmm, sangat sedap.
Sambil makan, kami ngobrol banyak hal. Dari obrolan itu saya sedikit memahami bagaimana kehidupan para guru TK tersebut. Terkait honor sebagai guru, tidak jauh beda dengan yang lain, guru-guru TK di pedesaan.
Miris memang. Dalam kondisi kehidupan serba mahal seperti ini, honor mereka tidak beda dengan sebelum covid menyerang.
Rasanya tak tega, saat mengingat honor sebulan mereka mungkin sama dengan uang saku sebagian anak-anak kota, hanya cukup untuk sekali nongkrong di cafe.
Kenapa mau?
Mungkin itu pertanyaan sebagian kita.
Ya, kenapa mau mendidik anak orang lain dengan imbalan yang memprihatinkan?
Itu faktanya, tidak semua amanah yang kita terima, signifikan dengan rupiah yang kita terima. Namun, banyak alasan selain uang yang membuat orang mau melakukannya.
Benar.
Apapun yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita, selayaknya berujung pada meningkatnya rasa syukur atas karunia yang telah diberikan-Nya.
Malu rasanya kalau masih banyak mengeluh terkait rizki. Terlalu sempit kalau kita berpikir bahwa rizki itu Allah berikan hanya melalui profesi yang kita geluti.
Semoga, Allah menjaga keikhlashan para guru TK di desa-desa, karena apa yang mereka lakukan adalah meletakkan pondasi karakter generasi yang akan terbangun puluhan tahun kemudian.


No comments:
Post a Comment